Rabu, 24 Agustus 2011
PERUBUHAN MASJID AL IKHLAS LANGGAR PP NO 24. TAHUN 1997
MEDAN - Sidang gugatan pembongkaran Mesjid Al-Ikhlas akan kembali digelar di Pengadilan Tata Usaha Negara di Jalan Listrik, Kamis (25/8) besok.
Sidang tersebut beragenda mendengarkan jawaban dari pihak tergugat yaitu pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Ketua Tim Advokasi Umat Islam, HMK Aldian Pinem menegaskan, sesuai jawaban dari pihak BPN tersebut, pihaknya menemukan bahwa peruntuhan mesjid Al-Ikhlas sangat bertentangan dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 24 tahun 1997, tentang agraria.
Sebelum mengeluarkan sertifikat hak pakai, lanjutnya, seharusnya pihak Badan Pertanahan Nasional melakukan investigasi ke lapangan. Apakah dilahan yang diajukan hak pakainya terdapat rumah ibadah atau tidak. Jika ada, pihak BPN tidak boleh mengeluarkan sertifikat hak pakainya.
"Kita melihat bahwa pihak BPN tidak pernah melakukan investigasi ke lapangan dan langsung mengeluarkan sertifikat hak pakai," bebernya.
Selain itu, lanjutnya, dalam pengeluaran sertifikat hak pakai itu terdapat jangka waktunya. "Dalam perkara ini, kita juga tidak melihat adanya jangka waktu dalam pemakai lahan tersebut," tambahnya.
Tak hanya itu, dalam pengeluaran sertifikat hak pakai, pihak BPN juga harus meminta surat silang sengketa (persetujuan) dari pihak pengaju sertifikat hak pakai itu yang berguna untuk mengantisipasi adanya keberatan dari pihak lain (tetangga).
Dan terakhir, kata Aldian, sketsa dalam sertifikat hak pakai yang dikeluarkan tidak boleh kosong. "Artinya, denah atau sketsa yang dibuat harus sesuai dengan yang ada dilapangan," bebernya lagi.
Aldian juga menyayangkan sikap BPN yang memasukkan lahan mesjid seluas 1600 m2 ke dalam lahan yang diajukan sertifikat hak pakainya hingga merugikan umat Islam.
"Lahan yang diajukan sertifikat hak pakainya jadi bertambah luas menjadi 9825 m2. Dimana, didalam lahan itu sudah termasuk tanah mesjid seluas 1600 m2," ujarnya seraya menyebutkan dalam sidang yang akan digelar pada Kamis mendatang, pihaknya akan mengajukan replik dari Badan Kenaziran Mesjid untuk menyangkal jawaban dari pihak BPN dan Menhan tersebut
Sumber :
Harian Waspada/Kamis, 25 Agustus 2011, Hal B2
WaspadaOnline
Sabtu, 20 Agustus 2011
MER-C Dukung Jamaah Masjid Al Ikhlas
Saturday, 20 August 2011
MEDAN – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia Joserizal Jurnalis memberi dukungan kepada jamaah MasjidAl Ikhlas,Jalan Timor,untuk tetap berjuang hingga masjid itu berdiri kembali di tempat semula.
“Atas nama apa pun, tidak boleh ada penggusuran masjid,” kata Joserizal, salah satu aktivis kemanusiaan yang sempat disandera pasukan Israel di Kapal Mavi Marmara saat masuk ke perairan Gaza, Palestina, seusai Salat Jumat di Jalan Timor, Medan, kemarin. Joserizal mengatakan, umat Islam di negara mayoritas muslim sering terusir dan dianiaya.
Menurutnya,itu semua jangan dianggap sebagai kekalahan dan kelemahan umat,tapi bagian dari kristalisasi perjuangan umat menuju pemurniannya. Dia menyebutkan, setiap umat Islam membutuhkan ladang- ladang perjuangan untuk pemurnian keimanan dan ketakwaannya.
Karena itu, di mana pun umat Islam yang tertindas dan terusir di situlah kesempatan untuk memperjuangkannya. “Karena Allah SWT tidak membutuhkan perjuangan kita, tapi kita yang butuh untuk berjuang.Jangan pikir setelah syahadat, salat, dan haji bisa langsung masuk surga.Tidak, kita masih butuh ladang-ladang perjuangan,” tegas Joserizal.
Namun dia mengingatkan perjuangan yang dimaksud harus mengedepankan kecerdasan. Cerdas dalam berjuang, cerdas dalam emosional, dan cerdas dalam berbuat. Karena prinsip dalam jihad bukan atas dasar emosi tapi untuk mencari rida Allah SWT.
Dia menyaksikan bagaimana kekuatan-kekuatan kecil bisa mengalahkan kekuatan besar di Palestina,seperti Hamas yang meraih kemenangan terhadap Israel hanya dalam beberapa hari, begitu juga dengan Hizbullah yang dapat mengalahkan Israel dalam waktu singkat.
Di Afganistan sendiri perjuangan masih terus berlanjut melawan pendudukan Amerika Serikat yang akhirnya membuat negara adidaya tersebut terbelit krisis ekonomi yang sangat dahsyat. Khatib Salat Jumat Buhanuddin Siagian sebelumnya juga menekankan pentingnya berjuang bagi umat Islam.
Menang atau kalah dalam perjuangan tidak akan pernah menjadi persoalan di hadapan Allah SWT.Namun,hal itu akan menjadi pertanyaan jika umat Islam tidak turut berjuang. “Menang atau kalah engkau dalam perjuangan mu tidak akan pernah ditanyakan Allah SWT.Namun yang pasti ditanya berjuangkah engkau?” kata Burhanuddin.
Dia juga menyesalkan jika banyak ulama dan pemuka agama lebih banyak berdakwah soal pahala dan dosa. Seolah olah jika semua umat sudah meraih pahala, semua persoalan keumatan akan selesai. “Kenapa kita masih cerita pahala di saat masjid diruntuhkan, TKI disiksa, ekonomi kapitalisme menguasai kita. Apakah itu semua akan selesai dengan pahala?” tandasnya.
Karena itu, umat harus berjuang dan berdakwah dengan kecerdasan. Jangan hanya karena tidak ingin menyindir kepala daerah, dakwah jadi hanya seputar pahala dan dosa. Independensi sebagai ulama seharusnya terjaga dengan baik.
Berdasarkan pantauan SINDO kemarin, jamaah Salat Jumat Masjid Al Ikhlas tetap padat, meskipun harus salat di tengah terik matahari dan dalam kondisi berpuasa. Seusai salat, sejumlah jamaah melaksanakan tadarus Alquran.
Sumber : SeputarIndonesia
Langganan:
Postingan (Atom)

